Jumat, 14 Januari 2011

Anakluh (2011)

Idayu adalah seorang single parent selama 18 tahun yang membesarkan kedua putrinya yaitu Mira dan Kirei. Idayu ditinggalkan suaminya sewaktu usia Mira masih tergolong balita saat itu. Sosok kehadiran ayah pun sangat dirindukan Mira dan Kirei, terutama Kirei yang belum sama sekali mengenal sosok ayahnya tersebut. Suatu hari, Idayu tidak sengaja bertemu dengan seorang lelaki yang seumuran dengan dirinya, Nando. Idayu pun menceritakan semua itu kepada kedua putrinya. Kedua putrinya tidak mempersoalkan tersebut, yang pasti lelaki tersebut harus mengerti keadaan ibunya yang single parent. Persoalan pun mulai muncul ketika Nando dipertemukan dengan Mira dan Kirei. Mira terlihat begitu jatuh cinta kepada sosok Nando ketika pandangan pertama, dirinya lupa kalau ibunya sedang menjalin hubungan serius dengan lelaki tersebut. Idayu pun harus memilih diantara dua pilihan yang cukup sulit antara memilih Nando sebagai pujaan hati atau membiarkan Mira memiliki Nando seutuhnya.



Cerita kisah seperti ini pastinya mengingatkan kita dengan film I Love You Om yang diperankan oleh Amanda beberapa tahun silam lalu. Namun demikian, setelah dilihat lebih lanjut, Anakluh sendiri memiliki unsur budaya yang kuat yang ingin disampaikan dari film ini. Sayangnya, unsur budaya tersebut tidak begitu terkena ke penonton karena kurangnya penekanan tersendiri dari film ini. Cerita yang dihadirkan pun terlihat cukup membosankan karena seperti melihat tontonan sinetron di layar lebar. Belum lagi pelafalan dialog antar pemain menggunakan bahasa Indonesia yang sangatlah baku dan terkendali.



Dari jejeran para pemain, gue sendiri secara pribadi agak terganggu dengan pemilihan pemain-pemainnya disini. Gue melihat sosok Rizky Hanggono sebagai pria berusia 40an terlalu muda diperankan olehnya di film ini. Shara Aryo sendiri sebenarnya tidak masalah dengan peran sebagai single parent disini, namun yang disayangkan adalah bagaimana perpindahan mimik dari awalnya gelisah menjadi ceria terlihat sulit sekali dibuat oleh dirinya. Walaupun aktingnya bagus tapi terkadang lebih banyak datarnya. Masayu Clara dan Suci Winarta pun terlihat masih kaku dan menghafal dari dialog-dialog yang mereka haturkan. Mungkin faktor resminya bahasa yang dihadirkan film ini jadi mereka masih agak canggung.



Anakluh sendiri memiliki keistimewaan sendiri yaitu di sinematografinya yang begitu memanjakan mata. Tidak lupa juga scoring yang diisi oleh grup band seventeen pun tidak klaah jauh menarik. Untungnya, pemilihan lagu-lagunya pas untuk film ini. Overall, film Anakluh sebagai film Indonesia kedua di tahun 2011 bisa dibilang kurang baik penggarapannya karena masih banyaknya bolong-bolong disana-sini dari cerita yang ingin dibagikan di film ini. Sebagai sineas yang pernah membuat film Joshua oh Joshua, rasanya Eduart Pesta Sirait harus lebih netral lagi jika ingin membuat film semacam ini. Selamat menonton. :cheers:



2,5/5



Trailer:



Selasa, 11 Januari 2011

Burlesque (2011)


Menonton Konser 2 Penyanyi kelas Dunia dalam waktu 2 jam! Film drama musikal ini bisa dibilang sangat menarik karena saya begitu terhibur dengan yang disajikan film ini selama 2 jam. Suara indah Christina begitu menawan. Begitu pula dengan Cher walaupun hanya 2 lagu yang dibawakannya. Suara dan tarian serta akting dari aktris muda berbakat yang cantik begitu natural dan dia terlihat begitu menikmati perannya disini. Bagaimana usaha Christina untuk mencari pekerjaan setelah kematian ibunya dan bagaimana usaha dia untuk mencari hati ke Cher yang dimana sebagai Pemilik Klub "Burlesque" tersebut. Begitu pula akting lawan mainnya Christina yang bisa dibilang agak konyol tapi cukup baik diperankannya. Yang diajikan di film ini disamping musikal, tapi juga ada percintaan, perselingkuhan, perselisihan, rasa cemburu, iri hati dan pengkhianatan, dan rasa tau diri kepada orang orang yang memberikan pekerjaan kepadanya yang dapat dinikmati di film ini yang berdurasi 2 jam. Mungkin banyak yang beranggapan cerita ini bisa dibilang biasa saja karena persoalan yang diajikan film ini memang begitu gampang. Akan tetapi saya melihat dari keseluruhan dan usaha bagaiamana Christina memperjuangkan cita-citanya menjadi seorang penari sekaligus penyanyi dengan proses kegigihannya. Lagu yang disajikan selama film ini juga sangat easy listening dan tidak membosankan begitu pula dengan tarian yang disajikan begitu menggoda penonton untuk mengikuti gerakannya. Mungkin pantas juga film ini dinobatkan sebagai Ost Film Terbaik versi Golden Globe 2011.
3,5/5

Rabu, 05 Januari 2011

Khalifah (2011)


Dari sinopsis dan trailer film ini bisa dibilang cukup menarik karena membawa unsur agama di film. Tapi apakah film ini sanggup membawa kesuksesan seperti film-film Indonesia lainnya yang terbilang cukup sukses di hati penggemar film Indonesia? Hanya pegawai loket,ditributor film yang tau karena mereka tau total jumlah penonton dari setiap film. Sutrada film ini sebelumnya telah membuat karya film yang berjudul 3 DOA 3 CINTA yang cukup sukses mendapatkan berbagai macam penghargaan nominasi di mancanegara dan dalam negeri. Apakah film ini juga mampu seperti itu? Oke kita mulai reviewnya terlebih dahulu

Awal film ini bisa dibilang agak sangat cukup membosankan karena alur film ini begitu sangat cukup lambat untuk dinikmati atau bagi para penikmat film indonesia yang sedang stress atau baru pulang kantor/kuliah/sekolah (bisa buat nguap dan tertidur looh). Tapi untung saja saya hanya menguap (3-5 kali) dan tidak sampai tertidur pulas...Di pertengahan barulah maksud dari pembuat film ini tersampaikan ke diri saya. Dari segi akting yang bisa dibilang cukup menonjol adalah Indra Herlambang karena karakter indra yang "fun" bisa berubah drastis menjadi misterius disini. Akan tetapi scene dari Indra tidak sebanyak yang saya harapkan. Jadinya bisa dibilang hanya peran lewat saja. Begitu pula dengan ben Joshua yang disini perannya pun tidak banyak juga. Apalagi dion wiyoko yang lebih dikenal pemain film laga disini cuma main 3 scene.Sungguh tragis..Dan taukah anda siapa yang menjadi peran narsis di film ini? Yak jawabannya adalah Khalifah yang diperankan Marsha Timothy. Saya maklum juga sih karena dia peran utama dan nama judul film ini tapi bukan berarti di setiap pergantian scene muka cantiknya harus ada kan? Secara keseluruhan film ini bisa dibilang minim dialog, tapi itu menurut saya cukup menarik karena penyampaian pesan dari akting semua pemain bisa tersampaikan dengan baik ke diri saya. Akan tetapi naskah film ini bisa dibilang kurang greget dan nampol, begitu pula alur cerita ini agak mirip suasana film karya sutradaranya terdahulu yaitu 3 DOA, 3 CINTA. Overall, saya cukup terhibur dengan film ini walaupun menguap hingga 5 kali...

2,5/5